Pieter Rumaropen Membesarkan Persiwa Wamena

Pieter Rumaropen adalah mantan pemain sepak bola Indonesia yang lahir pada 13 November 1983 di Kabupaten Biak Numfor, Papua. Ia dikenal sebagai gelandang yang tangguh dan menghabiskan sebagian besar kariernya bersama Persiwa Wamena, sebuah klub yang berbasis di Papua.

Karier Sepak Bola

Rumaropen memulai karier profesionalnya dengan Persiwa Wamena, di mana ia menjadi pilar penting tim tersebut selama bertahun-tahun. Sebagai gelandang, ia dikenal karena determinasi dan kemampuannya dalam mengatur permainan di lini tengah. Kontribusinya membantu Persiwa bersaing di kompetisi nasional, terutama di Liga Super Indonesia (ISL).

Insiden Kontroversial dan Sanksi

Pada 21 April 2013, dalam pertandingan ISL antara Persiwa Wamena dan Pelita Bandung Raya, Rumaropen terlibat dalam insiden yang mencoreng kariernya. Setelah wasit Muhaimin memberikan penalti kepada Pelita Bandung Raya pada menit ke-81, Rumaropen bereaksi dengan memukul wajah wasit tersebut. Akibatnya, wasit mengalami cedera dan harus digantikan, sementara Rumaropen langsung menerima kartu merah.

Tindakan agresif ini mendapat sorotan luas, bahkan diliput oleh media internasional. Komisi Disiplin PSSI awalnya menjatuhkan hukuman larangan bermain seumur hidup kepada Rumaropen. Ketua Umum PSSI saat itu, Djohar Arifin Husin, menilai hukuman tersebut pantas sebagai pelajaran bagi pemain lain untuk menjunjung tinggi fair play. 

Namun, Rumaropen merasa kaget dan menyatakan niatnya untuk mengajukan banding atas keputusan tersebut. Ia mengaku tidak berniat memukul wasit dan berharap sanksinya dapat diringankan. 

Pada 23 Mei 2013, Komisi Banding PSSI mengabulkan banding tersebut dan merevisi hukuman menjadi larangan bermain selama satu tahun serta denda sebesar Rp100 juta. Pertimbangan pengurangan hukuman termasuk usia Rumaropen yang mendekati 30 tahun dan posisinya sebagai tulang punggung keluarga. 

Kehidupan Setelah Sanksi

Setelah masa skorsing berakhir, Rumaropen kembali ke dunia sepak bola. Ia tetap bermain untuk Persiwa Wamena, meskipun klub tersebut terdegradasi ke Liga Premier Indonesia. Pada 2015, Persiwa menghadapi sanksi denda Rp100 juta karena menurunkan Rumaropen dalam pertandingan Divisi Utama saat ia masih menjalani hukuman. 

Selain karier sepak bolanya, Rumaropen juga dikenal sebagai ayah dari Diego Rumaropen, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang gugur dalam tugas melawan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). 

Karier Pieter Rumaropen mencerminkan perjalanan seorang atlet yang mengalami pasang surut, dari kontribusi signifikan di lapangan hingga menghadapi konsekuensi dari tindakan yang tidak sportif. Insiden tersebut menjadi pelajaran penting bagi dunia sepak bola Indonesia tentang pentingnya menjaga sikap profesional dan menjunjung tinggi fair play.
Share:

No comments:

Popular Posts

Recent Posts